Ulumul Qur’an Part 2 & Kisi-Kisi UAS

Al-Qur’an diturunkan Allah kepada ummat manusia dijadikan sebagai hudan, bayyinah, dan furqan dalam setiap aspek kehidupan manusia yang selalu relevan sepanjang masa. Inilah sebabnya untuk memahami al-Qur’an di kalangan ummat Islam selalu muncul di permukaan, selaras dengan kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Akan tetapi kemampuan setiap orang dalam memahami lafadz dan ungkapan al Qur’an tidaklah sama, walaupun penjelasannya sedemikian gamblang dan ayat-ayatnya pun sedemikian rinci. Perbedaan daya nalar diantara mereka ini adalah suatu hal yang tidak dipertentangan lagi. Kalangan awam hanya dapat memahami makna-makna yang zahir dan pengertian ayat-ayatnya secara global, sedangkan kalangan cendekiawan dan terpelajar akan dapat mengumpulkan beberapa makna. Dan diantara cendikiawan kelompok ini terdapat pula aneka ragam dan tingkat pemahaman. Maka tidaklah mengherankan jika Al-Qur’an digali melalui pengkajian intensif terutama dalam rangka menafsirkan kata-kata garib (aneh/ganjil) atau mentakwil tarkib (susunan kalimat) dan menterjemahkannya kedalam bahasa yang mudah dipahami, Waallahu A’lam…., Adapun kisi-kisi UAS adalah sebagai berikut; Continue reading

Ulumul Qur’an

Dalam wacana studi ke-Islaman, Al-Qur’an merupakan sumber dari segala sumber hukum, yang menjiwai seluruh keyakinan umat dan telah menjadi pandangan hidup dalam menjalani kehidupan ini, yang didefinisikan sebagai firman Allah (Kalamullah) yang diturunkan kepada kepada Nabi Muhammad SAW tertulis dalam mushaf yang kita terima dengan jalan mutawatir, diberikan pahala bagi para pembacanya, dan terjaga ke orisinilitasnya karena kemukjizatannya. Satu catatan penting dalam wacana studi Al-Qur’an, adalah upaya membumikan Al-Qur’an pada diri setiap muslim dengan membaca, mengkaji dan menyampaikan isi firman tersebut adalah tanggung jawab setiap ummat muslim dari masa ke masa. Continue reading

Hermeneutika; Sebuah Problem atau Solusi Terhadap Pembacaan Al-Qur’an

Al-Quran memerintahkan manusia untuk mempelajari dan memahaminya, melalui pentunjuk-petunjuknya yang tersurat maupun tersirat.[1] Interpretasi dan kesadaran manusia untuk merealisasikan pemahamannya akan teks dalam kehidupan konkrit yang menyebabkan sebuah kitab suci menjadi agung dan bermakna, sebagai petunjuk sekaligus pedoman hidup yang tertuang dalam bentuk ajaran akidah, akhlak, hukum, falsafah, siyasah dan ibadah.[2] Continue reading

Perempuan dan Kekerasan

Perbedaan gender, yang melahirkan ketidak-adilan bahkan kekerasan terhadap perempuan, pada dasarnya merupakan konstruksi sosial dan budaya yang terbentuk melalui proses yang panjang. Namun karena konstruk sosial budaya semacam itu telah menjadi kebiasaan dalam waktu yang sangat lama, maka perbedaan gender tersebut menjadi keyakinan dan ideologi yang dianggap ketentuan Tuhan yang tidak dapat diubah dan bersifat kodrati yang mengakar dalam kesadaran masing-masing individu, masyarakat, bahkan negara. Dengan demikian, ajaran Islam yang egaliter terusik manakala dihadapkan pada banyaknya pemeluk yang menempatkan laki-laki dan perempuan secara diskriminatif yang disebabkan oleh pemahaman yang syarat dengan paradigma patriarkhi[1] terhadap nas-nas al-Qur’an maupun hadis Nabi. Continue reading